Pasrahkan amarah. Dengan cakarnya yang tajam, sang Betina mengoyak tubuh Bedebah itu. Menguras habis seluruh darah, namun seketika terhentak. Ia tersadar, putrinya takkan kembali. Meski beribu kali mengais isi perut Bedebah yang tega memakan anaknya sendiri.
Ada rindu yang masih menunggu mati di pelukanmu.
Bedebah itu menari dalam kegelapan. Lalu seketika berlari bagai binatang buas melewati lorong riuh yang penuh kepalsuan. Sang betina pasrah, ajal telah menjemput kerinduan. —Tinta Angkara
Malam ini tanpa mimpi

hanya ada kita dan belati Mencoba membunuh benci