Pada Suatu Senja

Ia meloncat seakan punya sayap, demi menggapai kekasihnya yang telah lama pergi, terlindas beringas karnivor-karnivor di jalan raya. Tepat di mana bedebah itu menjemput mimpi yang selalu ia temui seketika kegelapan malam kembali. Dendam telah terpenuhi, ketika satu atap tertindih oleh hentakan cinta mati yang mendidih.

Esok pagi, sepanjang jalan kembali bersemi. Tragedi terlupakan tanpa misteri. Tanpa hati yang peduli. Berita pagi hanya dipenuhi caci-maki. Bedebah pergi, atas kesalahannya sendiri. Semua binatang masih tetap saja terlena mencari harta, tanpa cinta.

—Tinta Angkara