004 BEDEBAH SUNYI

001
BALADA BEDEBAH SUNYI

perempatan sunyi
lampu tak lagi berarti
merah kuning hijau
terdiam menatapmu risau

sesosok lelaki
terbangun membenci mentari
Sementara Yusi …
masih menanti ‘tuk kesekian kali

“Mengapa aku di sini?
Bodohnya mencintai
lelaki tanpa hati.
Tiada peduli.”
batin Yusi

Jendela mimpi
terbuka kembali
indah senyum pagi
mengejek menyeringai
Sambut dingin si lelaki
Sang Pencuri Hati

Cih!

Yusi menutup diri
di balik kaktus berduri
perih menusuk keji
bunga-bunga berharap mati
di depan gerbang berhari-hari
persembahan dari Yusi
percuma tersaji

lelaki keparat
biarkan ia berkarat
kasih sayang terbuang
puan semakin bimbang
sungguh malang

pulang tanpa hasil
gontai menggigil
“Oh, hujan
tolong sampaikan
perasaanku
yang diperkosa rindu.”

Pintu pun terbuka
setelah sekian lama
namun Yusi telah jauh pergi
rel panjang ia telusuri

ternyata hujan tepati janji
memanggil sisa jiwa sang lelaki
“Yusi!” teriaknya dari kejauhan
mungkinkah sebuah harapan

“Engkaulah aku
sebelum luka membunuhku”
bedebah itu pun pergi
menuju lorong sepi
hingga laju kereta api
melindas ironi

Yusi … kini sendiri
meratapi luka belati
di punggung mayat hati
mengulang tragedi

Tinta Angkara
Negeri Saba, 14 September 2018


002
PELANGI DI MALAM HARI

seperti pelangi
enggan menampakkan diri
pada gelapnya hati
di malam tragedi
takkan terjadi
terlalu tinggi hati

mungkinkah
ia datang ketika resah
mendengar keluh kesah
bagai bisikan mendesah
si puan yang basah
oleh darah

mengintip sepasang kekasih
yang saling menikmati perih
ketika mereka bersedih
terpaksa menangis lirih
saat kebahagiaan menyapih
harus memilih

kepada siapa kematian
akan diberikan
dua nyawa dipertahankan
sang ibu berkorban
demi kelahiran
tak terselamatkan

sayang, terlambat kini
bayi mungil menyusul pergi
tinggalkan ayah sendiri
berharap mati
tak kuasa lagi
pelangi pun pergi

Tinta Angkara
Negeri Saba, 14 Oktober 2018


003
PERTEMUAN RINDU

Kuingat kamu di pemakaman ibuku
tanpa tangis, hanya dirundung pilu
mungkin hanya simpati palsu
ataukah empati aku tak tahu

Tertunduk aku di depan peti mati
melirikmu sang pemikat hati
di selimut bumi ujung hari
tumbuhkan rindu, kau kunikmati

Aku terlalu malu untuk bertanya
agar kau berikan satu nama
pada wajah cantik serupa bunga
yang kau simpan di balik kacamata

Malam datang hadirkan sunyi
tanpa dirimu ada di sisi
angan melayang berkali-kali
kuingin berjumpa sekali lagi

Selalu saja terbayang
akankan masa akan terulang
Kujadikan saja kenyataan
momentum pertemuan

Bila kakakku mati
mungkin kau tak peduli
kubunuh saja ayahku hari ini
Datanglah ke pemakamannya esok hari

Tinta Angkara
Negeri Saba, 21 October 2018


004
BALADA WANITA BERAMBUT MERAH

Dengarlah! Gemericik padi
Kuningnya dimerahkan mentari
Kala senja membara hangatkan mucikari
Ketika cinta tak mengenal harga diri

Gubuk remang di tengah pematang
Rambut merah merekah tersenyum menantang
Desah-desah berganti gelisah
Tuan tanah lampiaskan amarah

Malam ini sunyi
Kelam hari merebah ke hati
Lelaki pengecut melarikan diri
Bedebah! Tinggalkannya sendiri

Berdarah-darah
Nafas terengah
Kerkulai lemah
Harapan punah … sudah

Si rambut merah mati
Kini, tanpa senyum mengiringi
“Bikin rugi” kata si mucikari
Tak peduli, tinggal cari lagi

Tinta Angkara
Negeri Saba, 25 Oktober 2018


005
PENJAHAT PERANG

pada langit yang menghujan
di atas mayat-mayat perjuangan
merubah genderang jadi keheningan
kampung halaman riuh tangisan

kesedihan, tak pernah sirna
merasuk dalam duka cita
orang-orang mengheningkan cipta
kepedulian, setelah sekian lama

datang jua, mayat-mayat pergi
dibawa lari, entah di mana kini
mereka berpura-pura simpati
tanpa empati terkadang menghakimi

sejarah yang kau politisasi
hanya kenangan pahit bagi kami
kalian usik lagi dan lagi
bukan kebenaran yang dicari

mengharap kemenangan
kami tetap saja kehilangan
bila kelam hari akan terulang
kalianlah para penjahat perang

Tinta Angkara
Negeri Saba, 28 Oktober 2018


006
KAMISAN

Kami bawa payung hitam
untuk menaungi masa kelam
pada jiwa-jiwa berjuang
pemilik mayat-mayat yang hilang

Bertahun-tahun menagih janji
mempertanyakan setiap kali
kami datang ke sini
“Di mana anak-anak kami?”

Yang memperjuangkan dikutuk kematian
pelanggaran tetap saja disembunyikan
Takkan pernah bisa terlupakan
meski disogok pembangunan jalan

Tiada Kamis yang terlewatkan
demi sebuah kedamaian
pertanyaan yang terabaikan
“Akankah kami dapatkan?”

Dalam hitam kami berkabung
jiwa-jiwa baru ikut bergabung
Berempati segenap hati
suarakan hati

Masih menunggu
sampai kapan kalian mau
mencari jawaban
atas kematian

Tinta Angkara
Negeri Saba, 28 Oktober 2018


007
DERU DEBU

Tanah-tanah kerontang
menjadi debu jalanan
terhempas dan terbang
dihirup seseorang

merusak paru-paru
menggerogoti tanpa ragu
di antara hitam nikotin
keluar sebagai dahak dingin

sedingin kematian
sedikit kesakitan
jatuh kembali
sampah nabati (?)

terinjak masuk dalam-dalam
lebih seperti pemakaman
membunuh rumput mematikan
namun tak disebut pahlawan

kau dan aku percaya
bahwa tanah adalah kita
bukan yang subur mensejahterakan
hanya debu serupa kotoran

Tinta Angkara
Negeri Saba, 28 Oktober 2018


008
BUKAN PERAWAN

pegang tangan ini erat
langkah kaki tak lagi berat
karena tujuan kita mendekat
bangunan lama bernuansa pekat

sekap aku yang lemah ini
kloroform buatku enggan berdiri
di dahiku kautulis luka
tak sadarkah aku menikmatinya

perkosa aku perlahan
pada lembut goresan tangan
nafsu mulai terbangkitkan
mengambil alih kekuasaan
sayang, aku bukan perawan
bagiku engkaulah korban
jantungmu sungguh lembut menawan
ketika kuraih dengan kedua tangan

dalam kegelapan malam itu
kuminum kamu sepuas hatiku
nikmati setiap tetes wajahmu yang lugu
ketidaktahuan terasa begitu lucu
ketika kau mati tanpa baju
seharusnya kau pikir dulu
sebelum memilihku

Tinta Angkara
Negeri Saba, 29 Oktober 2018


009
JANJI SUCI

Tunggu aku sore nanti
aku pulang langkahkan kaki
Kubawakan kekasih hati
yang telah lama kau cintai

Tak perlu lagi sembunyi
kutahu semua yang terjadi
kini tak lagi aku pungkiri
ternyata bukanlah mimpi

Aku datang
seperti yang kujanjikan
Dialah pujaan
padamu kuhadiahkan

Tubuhnya terlalu berat kubawa
tangan dan kakinya entah ke mana
hanya kepala yang membuatmu mencinta
kujahitkan senyum agar terlihat tampan menggoda

Tak perlu menangis histeris
Berisik! Diam dan bantu aku mengais
sisa-sisa jiwa yang kau iris
kau tanam pada matanya yang manis

itu cintaku
yang kuberikan padamu
… dulu

Tinta Angkara
Negeri Saba, 29 Oktober 2018


010
LUKA LANI

Lani berkelana sunyi
dari hati hingga ujung bumi
Mendaki gunung tertinggi
untuk menatap lembah suci

Di mana tanah adalah tumpukan belati
Mencaci langkah menusuk berkali-kali
ini bukan sekedar mimpi atau ilusi
namun kenyataan dalam imaji

Lani terus mencari
muka sang ayah yang tinggalkannya pergi
sejak usia dini hingga dipagar nadi
ia temukan kini

amarah sebesar mentari
panas membakar diri
tanpa ragu hujani belati
pria paruh baya mati

Sulit dipahami
Lani tak sadar diri
kulitnya telah keriput kini
mayat itu Rudi, kakaknya sendiri

Dia yang begitu dibenci
selamatkan Rudi dari Lani
yang terlahir sebagai pembunuh sejati
kini benar-benar terjadi

Sang ayah telah lama mati
kini tinggal sesosok bayi
Tumbuh dengan dendam di hati
pada Lani yang membuatnya sendiri

Kenyataan dalam imaji … terulang kembali

Tinta Angkara
Negeri Saba, 29 Oktober 2018