002 Perjamuan Berdarah

001
BALADA CINTA ANIE

sebatang kara
cantik menggoda
sebesar dua buah dada
Anie ternoda sejak belia
dari ayah yang biadab
Anie kecil berubah keparat

ia ada karena harta
menyiksa sang pecinta
tinggalkan luka
mayat melata
tanpa kelamin
Anie semakin dingin

hingga datang yang sejati
Anie jatuh hati
merubah hitam jadi abu
tak kuat birahi menggebu

ternyata tipuan belaka
pria muda tanpa jiwa
hancurkan yang tersisa
Anie semakin murka
memburu sang pujangga
hingga nyawa di genggamnya

karena cinta
urungkan niatnya
lemah kini
malangnya Anie
pasrahkan diri
tinggalkan mimpi

ayah durhaka kembali
menyaksikan kematian Anie
tertikam di belakang
termutilasi dari selangkang
ayahanda pergi
bersama anak lelaki

Negeri Saba, 21 Juni 2018
Poem by Tinta Angkara
Oil Painting by Tinta Angkara


002
AH …

kala imaji hadir sebelum mimpi
pernah sekali kau kumasuki
kau hirup sebagai udara
hempaskan sebagai suara

desah menggoda tersimpan duka
lara hati tak terlupa selamanya
di sela malam yang sepi
bercintalah rindu dan benci

telanjang ia di sisi ranjang
bukan cintamu, sayang
terjebak pernikahan
mengulum nikmat siksaan

tiap malam
hanya mendendam
padaku yang telah pergi
tertikam mati

oleh lelaki
yang kau tiduri
tanpa hati
tanpa memori

Tinta Angkara
Negeri Saba, 22 Juni 2018


003
CINTA KEKASIHKU

begitu megah rasa ini
padamu yang tak kumiliki
berawal dari mimpi
perselingkuhan kita jalani

hingga saling memutuskan
rindu harus dipertemukan
di sebuah hotel murahan
seperti yang direncanakan

rasa takut tak terobati
bercampur nafsu birahi
berharap malam ini saja
terpuaskan dosa kita

tak sempat kau kusentuh
datang suara gaduh
beberapa lelaki buruk rupa
masuk secara paksa

tangan dan kaki terkekang
memaksaku memandang
telanjang mereka tertawa
memperkosa … Cinta

Tinta Angkara
Negeri Saba, 22 Juni 2018


004
PERJAMUAN

terkulai lesu
indah tubuhmu
tiada lagi merindu
usai percintaan lalu

digerayangi oleh lembut kegelapan
sebelum belati menyayat tajam
menusuk menembus angan
lakukan sepanjang malam

berkali-kali daging dibumbui
kuah panas sesekali kucumbui
harus sempurna, tuk menu spesial
aroma kaldu, bercampur amis sambal

pagi ini kau kunikmati
sarapan yang sepi
ramah menjamu
kuajak kekasihmu

demi sebuah penyelesaian
setelah banyak permusuhan
mayatmu kupersembahkan
di atas meja prasmanan

Tinta Angkara
Negeri Saba, 24 Juni 2018


005
TOPENG KULIT

langkahmu selalu kuikuti
kemanapun kau pergi
meski jarak harus kujaga
agar tiada rasa curiga

ingin aku mendekati
namun mereka mengamati
hasrat diri harus menanti
akankah datang sepi

indah tubuh gemulai
leher tipis melambai
manis basah keringatmu
pasti kan mendesah kucumbu

ingatkanku pada perlakuanmu
yang angkuh abaikan rindu
memandang hina dalam tawa
saat aku terluka oleh canda

akan kulupakan
pasti kumaafkan
takkan kupaksakan percintaan
hanya kuambil yang menawan

bila kau tak melawan
kepergianmu kupersilahkan
setelah kulit wajahmu yang menggoda
kujadikan topeng teristimewa

Negeri Saba, 26 Juni 2018
Poem by Tinta Angkara


006
ELEGI PAGI HARI

terbangunkan mentari
merusak semua mimpi
merenggut tanpa hati
silaunya menyakiti
menyadarkan diri

siapa ia di tempat tidurku
wanita telanjang tanpa malu
kugoyangkan penuh ragu
hening tak pedulikanku

halus kulitnya kuraba
aduhai cantiknya
sungguh menggoda
kumasuki selimut merah muda
basah terasa
seketika kubuka
membelalakkan mata
darah ternyata

dalam tenang kuterdiam
apa yang kulakukan semalam
tak mungkin kulakukan
melupakan kenikmatan
mungkinkah pembunuhan

lembut bibirnya kucicipi
satu rasa ingatkanku kembali
oh, terngiang lagi bagaimana ia mati
di tanganku sendiri
dengan belati, kutikam berkali-kali
namun alasan apa yang kumiliki
ah sudahlah, kutinggal pergi

Negeri Saba, 26 Juni 2018
Poem by Tinta Angkara


007
CINTA LAMA

kudekap erat
dada kita merapat
di atas perahu
lampiaskan rindu

telaga ini terlalu sunyi
menatap enggan bersaksi
ketika engkau kembali
mengharapkan cinta bersemi
sekali lagi

terlalu banyak luka lama
aku takkan pernah terlupa
namun kau masih di hati
satu tempat di sini
terkapar hampir mati

pada setiap cumbu
tersirat pesan untukmu
dari benci hingga birahi
satu yang harus kau resapi

ini ciuman terakhir
untuk kita yang berakhir
sepercik perpisahan
perahu kutenggelamkan

aku masih bisa berenang
engkau kutinggalkan
selamat tinggal sayang
ini hanya pembalasan
dendam

Negeri Saba, 26 Juni 2018
Poem by Tinta Angkara
Oil Painting by Tinta Angkara


008
LANGKAH NYI ROMLAH

seperti mawar mengering
teriakkan pilu nan hening
tak lagi indah
dulu sempat merekah

bejalan gontai
Nyi Romlah tak jua sampai
lemah tubuhnya memerah
sesekali merebah

“layakkah engkau begini?”
bergumam sendiri
kikuk mata menatap
mulut takut berucap

darah perlahan menghitam
air mata berganti wajah muram
Nyi Romlah yang malang
berjalan tanpa tujuan

menggendong anaknya
yang mati terluka
tertikam ternoda
oleh bejat sang pemerkosa

Negeri Saba, 28 Juni 2018
Poem by Tinta Angkara
Oil Painting by Tinta Angkara


009
BISIKAN NERAKA

aku terdampar sendiri
pada pulau tak berpenghuni
di tengah lautan darah
clarity di atas tongkah

jelas terlihat
jiwa-jiwa laknat
berperang hebat
tanpa maklumat

terhempas gelombang
terlalu letih ‘tuk berenang
bersama kumpulan terbuang
manusia-manusia malang

kekasih berpisah
ayah terluka parah
mati anak tak berdosa
hilang sudah kepala

kuangkat senjata
kubunuh seluruh keluarga
biar damai tanpa siksa
oleh dosa dunia

Negeri Saba, 29 Juni 2018
Poem by Tinta Angkara
Oil Painting by Tinta Angkara


010
#WishYouWereHere

MENGHARAPMU DI SINI

aku terlalu sibuk
saat kau berlaku buruk
menggoda indah gelap matanya
dengan kelamin yang tak seberapa

terus bekerja
kau bukan siapa-siapa
berani berkata-kata mesra
pada ia yang kucinta

di rumahku sendiri
yang kau datangi
sementara aku di belakang
mencangkul lahan kerontang

kuharap kau di sini
mudah kusakiti
dadung menjerat erat
tang jepit lidah berkarat

selesai kini kugali
lubang di tanah ini
selamat menikmati
terkubur hingga mati

Negeri Saba, 30 Juni 2018
Poem by Tinta Angkara
Oil Painting by Tinta Angkara

 

­